Yasashii Sakubun

Telah terbit. Buku baru dengan judul "Yasashii Sakubun" (Mengarang Bahasa Jepang Mudah) Harga Rp.45.000,-

Kumpulan Soal-soal Minna no Nihongo I & II

Bagi yang belajar bahsa Jepang menggunakan buku teks “Minna no Nihongo”, kini telah terbit "BUKU KUMPULAN SOAL-SOAL MINNA NO NIHONGO" yang merupakan serangkaian buku “Minna no Nihongo” baik untuk Jilid I maupun Jilid II.

JLPT (Japanese Language Proficiency Test)

Jika dalam Bahasa Inggris kita menempuh test TOEFL untuk mengetahui tingkat penguasaan berbahasa Inggris, dalam Bahasa Jepang juga terdapat test yang bernama JLPT. Dalam lingkup international disebut dengan istilah JLPT ( Japanese Language Proficiency Test), Dalam lingkup Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah UKBJ (Uji Kompetensi Bahasa Jepang) dan dalam Bahasa Jepang sendiri disebut dengan 日本語能力試験 'nihongo nouryoku shiken'.

EJU (Examination for Japanese University for International Students)

EJU (Examination for Japanese University for International Students) digunakan sebagai ujian saringan guna mengukur kemampuan berbahasa Jepang dan kemampuan akademis dasar bagi pelajar yang ingin melanjutkan studi di universitas pada tingkat undergraduate atau lembaga pendidikan tinggi lainnya di Jepang.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

12 Maret 2012

Filosofi Sadō 茶道


              Upacara minum teh yang di Jepang dikenal dengan istilah sadō atau chanoyu, telah dihargai sebagai sebuah seni yang lebih disukai oleh wanita. Namun, dalam perkembangan trendnya, sejumlah kaum pria mampir di sebuah salon upacara minum teh dalam perjalanan mereka sepulang dari kantor. Kelas-kelas yang mengajarkan kebudayaan Jepang lainnya  seperi ikebana (seni merangkai bunga) dan instrumen musik tradisional seperti samisen kini juga menarik lebih banyak perhatian pria. Gambaran keseluruhannya adalah para pria ini kembali mendatangi seni tradisional yang telah mendukung Jepang secara spirit sekian lama.

          Dasar dari Sadō (yang artinya the way of tea) terletak pada kebiasaan sederhana merebus air, menyiapkan bubuk teh hijau, menyajikannya kepada tamu dan meminumnya sendiri. Dalam sejarahnya lebih dari 5 abad, the way of tea itu sendiri tergabung dalam filosofi Budha Zen dan diilhami dalam sebuah semnagat yang halus. Sadō juga telah mengambil sebuah karakter seni yang tinggi, bersyukur pada pengejaran akan keindahan dan peralatan yang tua dihargai dan ditangani dengan sangat hati-hati sehingga mereka tidak akan kehilangan kilaunya sepanjang masa. Etika dari sadō adalah rinci dan pasti, namun dalam dan tidak mudah dipahami.