8 April 2012
Makna Ungkapan Terimakasih dalam Masyarakat Jepang
Dunia ini tidak akan terasa indah jika tanpa ada hadirnya kebaikan dari para manusia. Wujud kebaikan yang telah dilakukan dari orang satu ke orang yang lain, entah itu didasari dengan tujuan tertentu atau hanya dengan keikhlasan semata akan memunculkan uangkapan terimakasih sebagai wujud rasa terimakasih atas kebaikan yang diberikan tersebut. Di manapun kita tinggal, dimanapun kita hidup, ungkapan terimakasih tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Jika di Indonesia kita bisa menjumpai ungkapan terimakasih dalam beragam ungkapan yang dipengaruhi dialek misalnya “terimakasih”, “matursuwun”, “haturnuwun” dan lain sebagainya . Selain itu muncul juga ungkapan terimakasih yang mendapatkan pengaruh dari pergaulan sosial masyarakatnya misalnya ungkapan “trims”, bahkan yang sedang populer pada anak-anak muda sekarang ini adalah bahasa alay yang mengungkapkan terimakasih dengan ungkapan “mukucih”.
Bagaimanapun juga bentuk ungkapannya, tapi pada intinya semua itu bertujuan untuk mengekspresikan rasa terimakasih dari wujud kebaikan yang telah diterima dari orang lain. Sama halnya di Jepang, uangkapan terimakasih pun beragam. Ungkapan terimakasih dalam masyarakat Jepang bisa digolongkan dalam salah satu bentuk persalaman atau 挨拶 ‘aisatsu’. Sehingga pernah dijumpai sebuah kalimat “Atatakai kokoro wa aisatsu kara” yang berararti 'hati yang hangat bermula dari salam'. Ini mengandung arti bahwa hangat tidaknya seseorang dalam kehidupan ini berawal dari ada tidaknya niat seseorang itu untuk mengucapkan kata-kata salam. Hati yang hangat akan secara otomatis berpengaruh dengan sikapnya yang hangat, ramah senantiasa memberikan kedamaian pada setiap orang yang ada di sekitarnya. Sedangkan terimakasih merupakan bagian dari salam tersebut, sehingga oarang yang pandai mengungkapkan terimakasih sesuai dengan kondisi yang ada dapat dinilai sebagai orang yang sangat baik dalam menciptakan hubungan sosial dalam masyarakat.
12 Maret 2012
Filosofi Sadō 茶道
Upacara minum teh yang di Jepang dikenal dengan istilah sadō atau chanoyu, telah dihargai sebagai sebuah seni yang lebih disukai oleh wanita. Namun, dalam perkembangan trendnya, sejumlah kaum pria mampir di sebuah salon upacara minum teh dalam perjalanan mereka sepulang dari kantor. Kelas-kelas yang mengajarkan kebudayaan Jepang lainnya seperi ikebana (seni merangkai bunga) dan instrumen musik tradisional seperti samisen kini juga menarik lebih banyak perhatian pria. Gambaran keseluruhannya adalah para pria ini kembali mendatangi seni tradisional yang telah mendukung Jepang secara spirit sekian lama.
Dasar dari Sadō (yang artinya the way of tea) terletak pada kebiasaan sederhana merebus air, menyiapkan bubuk teh hijau, menyajikannya kepada tamu dan meminumnya sendiri. Dalam sejarahnya lebih dari 5 abad, the way of tea itu sendiri tergabung dalam filosofi Budha Zen dan diilhami dalam sebuah semnagat yang halus. Sadō juga telah mengambil sebuah karakter seni yang tinggi, bersyukur pada pengejaran akan keindahan dan peralatan yang tua dihargai dan ditangani dengan sangat hati-hati sehingga mereka tidak akan kehilangan kilaunya sepanjang masa. Etika dari sadō adalah rinci dan pasti, namun dalam dan tidak mudah dipahami.
29 Februari 2012
ORIGAMI
Apakah Origami Itu?
Hingga abad 21 sekarang ini, kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Origami. Meskipun demikian, dalam tulisan kali ini akan dibahas dari awal lagi mengenai “Apakah Origami itu?” agar pemahaman kita lebih jelas lagi. Origami berasal dari kata 折る ‘oru’ yang berarti “melipat” dan kata 紙 ‘kami’ yang berarti kertas. Sehingga jika kedua kata ini digabungkan akan menghasilkan arti “kertas lipat” atau “lipatan kertas”.Origami merupakan seni melipat kertas yang berasal dari China pada sekitar abad ke-7 yang kemudian di populerkan di negara Jepang, sehingga, terkesan bahwa Origami memang betul-betul asli dari negara Jepang. Meskipun demikian, Origami sudah menjadi salah satu bagian budaya tradisional yang sudah mendarah daging di seluruh masyarakat Jepang. Hal ini bisa dilihat bahwa pda kenyataannya Origami sering diajarkan pada siswa-siswi mulai di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar. Selain itu, bukti bahwa masyarakat Jepang sangat mencintai Origami adalah, mereka selalu melakukan inovasi dan improvisasi yang kreatif dalam menghasilkan beragam bentuk lipatan Origami yang sangat tinggi nilai seninya.
24 Februari 2012
Logo I'Mc Center
Logo Inspiration I'Mc Center
| Berawal dari bentuk dasar bunga sakura yang merupakan bunga identitas khas negara Jepang, ini melambangkan bahwa lembaga ini membentuk sebuah kerja sama international dalam hal kebudayaan khususnya kepada negara Jepang. Jumlah kelopak bunga sakura tersebut berjumlah 6, ini sebagai simbolisasi ke-enam nisi dari I'Mc Center itu sendiri yang di lambangkan dengan mekarnya bunga sakura. Ini di artikan bahwa I'Mc Center akan mengalami sebuah progres dan masa kejayaan dalam hal ini diartikan sebagai sebuah kesempurnaan saat dimana bunga sakura mekar. Pemvisualisasian bentuk lengkung dimaksudkan sebuah kemudahan dan keinteraktifan lembaga mencapai sebuah tujuannya serta dikesankan dengan bentuk yang modern serta tidak monoton. Jika diamati maka bentuk kelopak bunga sakura ini akan terlihat terbuka, ini diartikan bahwa I'Mc Center mewadahi berbagai macam aktifitas multi sosial. Bagian tengah dari kelopak bunga terdapat sebuah bagian negatif (bagian terbalik/dalam hal ini warna) yang membentuk siluet dari ekspresi gembira sesorang, ini di artikan bahwa I'Mc Center memberikan pelayanan, baik pembelajaran maupun pendalaman pengenalan budaya secara menyenangkan dan mudah dipahami. | ![]() |
17 Februari 2012
EJU (Examination for Japanese University for International Students)
Tahap Pertama
- Tanggal Pendaftaran: 13 Februari 2012 – 09 Maret 2012
- Biaya Pendaftaran: Rp 55.000,00
- Tanggal Pelaksanaan: 17 Juni 2012
Tahap Ke dua
- Tanggal Pendaftaran: 02 Juli 2012 – 27 Juli 2012
- Biaya Pendaftaran: Rp 55.000,00
- Tanggal Pelaksanaan: 11 November 2012
Ø
Langganan:
Postingan (Atom)










