Attention: Applicants for the 2020 EJU (1st Session) [outside Japan]
Kursus Bahasa Jepang Surabaya
Telah terbit. Buku baru dengan judul Kaite Oboeru Bunkei Renshucho 書いて覚える文型練習帳 Buku Latihan Pola Kalimat Bahasa Jepang
Telah terbit. Buku baru dengan judul "Yasashii Sakubun" (Mengarang Bahasa Jepang Mudah) Harga Rp.45.000,-
Bagi yang belajar bahsa Jepang menggunakan buku teks “Minna no Nihongo”, kini telah terbit "BUKU KUMPULAN SOAL-SOAL MINNA NO NIHONGO" yang merupakan serangkaian buku “Minna no Nihongo” baik untuk Jilid I maupun Jilid II.
Jika dalam Bahasa Inggris kita menempuh test TOEFL untuk mengetahui tingkat penguasaan berbahasa Inggris, dalam Bahasa Jepang juga terdapat test yang bernama JLPT. Dalam lingkup international disebut dengan istilah JLPT ( Japanese Language Proficiency Test), Dalam lingkup Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah UKBJ (Uji Kompetensi Bahasa Jepang) dan dalam Bahasa Jepang sendiri disebut dengan 日本語能力試験 'nihongo nouryoku shiken'.
EJU (Examination for Japanese University for International Students) digunakan sebagai ujian saringan guna mengukur kemampuan berbahasa Jepang dan kemampuan akademis dasar bagi pelajar yang ingin melanjutkan studi di universitas pada tingkat undergraduate atau lembaga pendidikan tinggi lainnya di Jepang.

| Tanggal | : | Sabtu, 2 Maret 2019 |
|---|---|---|
| Jam | : | 08:00 - 13:00 WIB |
| Tempat | : | Gedung LP3M / PPG lt. 9 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Kampus Lidah Wetan, Surabaya |
| Tanggal | : | Senin, 21 Januari 2019 s/d Senin, 18 Februari 2019 |
|---|---|---|
| Tempat Pendaftaran | : | I'Mc Center Surabaya |
| Alamat | : | Perumahan Lotus Regency-F7 Jl. Ketintang Baru Selatan IA Surabaya |
| : | info@imccsub.com | |
| Telp/Fax | : | 031-8299053 |
| No. HP & WA | : | 0813-3438-2159 |
| ID LINE | : | imc.center |

Satu lagi paket kebudayaan Jepang yang masih terjaga hingga saat ini, Kadou dan Sadou. Kawan-kawan pernah mendengar nama-nama tersebut? Dua hal tersebut di atas selalu dikombinasikan bersama dalam satu waktu. Dua kebudayaan ini masih menjadi daya tarik yang besar pagi warga luar Jepang. Sering sekali kita jumpai kegiatan yang mengusung tema Kadou dan Sadou.
Kadou adalah seni merangkai bunga dari Jepang. Kadou juga memiliki sebutan lain yaitu, Ikebana. Kadou memanfaatkan berbagai jenis bunga dan rerumputan untuk dinikmati keindahannya. Dalam Kadou terdapat beberapa aliran yang memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan keindahan rangkaian bunga.
Kesenian ini juga memiliki tujuan lain yaitu, menyelamatkan tumbuhan yang hampir mati. Biasanya, untuk keperluan Kadou, bunga dan tumbuhan yang digunakan tidak selalu yang masih segar. Bunga yang hampir layu, ranting yang patah, daun yang sudah menguning pun bisa digunakan dalam Kadou. Semua itu untuk menggambarkan kehidupan yang tidak selalu bagus, masa-masa sulit pun pasti datang dalam kehidupan.
Kadou terbagi menjadi dua tipe, Nagaire dan Moribana. Nagaire adalah tipe seni merangkai bunga dengan menggunakan vas yang tinggi. Sedangkan Moribana adalah tipe seni merangkai bunga dengan menggunakan vas yang rendah dan lebar.
Terdapat satu poin utama dalam setiap rangkaian bunga yang biasa disebut “putri”. Dalam satu rangkaian bunga akan ditonjolkan karakter “putri” sebagai fokusnya. Biasanya memakai bunga dengan warna mencolok untuk menguatkan kesan “tokoh utama” dalam satu rangkaian tersebut.
Sadou adalah salah satu budaya Jepang yang akan mengenalkan kita pada adat minum teh. Sadou atau biasa disebut Chanoyu memiliki hubungan yang cukup erat dengan Kadou. Dalam ruangan yang dipakai untuk upacara minum teh, biasa diletakkan lukisan dinding, rangkaian Ikebana, dan keramik pada satu area. Keseluruhan hiasan tersebut juga disesuaikan dengan musim untuk menunjang nuansa dalam ruangan.
Sadou atau Chanoyu dilakukan dengan sejumlah tata krama yang telah diajarkan sejak jaman nenek moyang. Tuan rumah dan tamu juga harus melakukan sikap duduk Seiza saat upacara minum teh berlangsung. Seiza adalah sikap duduk dengan melipat kaki ke belakang dan menduduki kaki yang diposisikan sejajar lurus. Sejak kecil, masyarakat Jepang sudah dilatih untuk duduk dengan posisi ini.
Teh yang disajikan dalam Sadou merupakan teh asli tanpa gula yang hanya dituang dengan air panas. Sebagai teman dalam menikmati teh, tuan rumah juga biasa menyajikan Wagashi. Wagashi adalah sejenis kue manis untuk mengimbangi rasa teh yang pahit. Seiring waktu, Wagashi mengalami perubahan bentuk rupa. Wagashi yang biasa ditemukan sekarang memiliki bentuk yang indah dengan berbagai macam warna, bahkan disesuaikan dengan nuansa musim.
Kedua kebudayaan Jepang ini menggambarkan ketenangan jiwa. Dengan mempraktikkan Kadou dan Sadou, kita akan merasakan pengalaman spritiual yang menenangkan. Banyak orang mencoba atau bahkan sampai terjun ke dunia Kadou dan Sadou untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Berikut adalah beberapa foto yang kami ambil dari Workshop Ikebana dan Sadou di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya oleh Mikiko Shimizu sebagai nara sumber utama. Jadi, apakah kawan-kawan berminat mencoba Kadou dan Sadou?

embicarakan kebudayaan Jepang memang tidak akan ada habisnya. Salah satu kebudayaan Jepang yang menonjol adalah kepercayaannya. Kawan-kawan pasti sudah sering mendengar tentang keberagaman kepercayaan di Jepang. Entah itu yang berhubungan dengan kehidupan karir, asmara, atau unsur kehidupan lainnya. Kepercayaan di Jepang ini tak muncul begitu saja. Mereka tercipta atas dasar kepercayaan kepada dewa yang menyatu dengan alam.
Masyarakat Jepang percaya dewa-dewa akan menyatu dengan alam. Maka dari itu, masyarakat Jepang sangat menjaga kelestarian alam dan memperlakukan alam seperti sesuatu yang agung dan utama. Setiap musim pasti terdapat perayaan di Jepang. Masyarakat Jepang juga punya kebiasaan untuk menyinggung keadaan alam di awal surat.
Nah, artikel ini akan membahas salah satu kepercayaan Jepang yaitu, boneka Daruma. Pernahkah kalian mendengar tentang kepercayaan ini? Boneka Daruma berasal dari kisah Buddha, yang berasal dari kata Bodhidharma yaitu, biarawan Buddha, putra Raja Brahmin di India Selatan. Boneka Daruma diciptakan untuk mengenang Bodhidharma sebagai penyebar agama Buddha di Jepang pada abad ke-6.
Boneka Daruma biasa dipakai sebagai hadiah dalam perayaan Natal, Tahun Baru, atau Ulang Tahun. Boneka ini digunakan sebagai simbol keberuntungan dan semangat untuk masyarakat Jepang pada awal mencapai kesusksesan, serta sebagai simbol pengharapan dan kemenangan. Boneka Daruma sering dijumpai di rumah-rumah masyarakat, restoran, sekolah, dan perkantoran.
Pada awalnya, boneka Daruma dibuat dengan ciri khas warna merah. Namun, sekarang sudah berkembang dan dibuat dalam berbagai macam warna. Dalam perkembangannya, boneka Daruma dimulai dengan lima warna yang disebut ‘Goshiki’. ‘Goshiki’ memiliki unsur-unsur Buddha yang berarti kehidupan manusia. Lima warna dalam Daruma yaitu; hijau, kuning, merah, putih, dan hitam.
Boneka Daruma dibuat dengan bentuk tanpa kedua lengan dan kaki, serta tanpa kelopak mata. Menurut sejarah, ketika Bodhidharma melakukan meditasi untuk mencapai pencerahan, ia duduk selama sembilan tahun sehingga kedua lengan dan kakinya mati rasa dan tidak bisa berfungsi lagi. Selain itu, dia juga sering jatuh tertidur yang dia rasa sangat mengganggu dan akhirnya ia memotong kelopak matanya. Pencabutan dirinya dari dunia luar dengan semangat tinggi yang menjadi dasar terciptanya boneka Daruma sehingga dipakai sebagai simbol kemenangan.
Boneka Daruma biasanya dijual dengan mata polos tanpa bola mata. Hal ini dimaksudkan agar pembeli mengecat sendiri bola mata sebagai simbol ketika ingin mencapai tujuan dalam hidupnya. Jika memiliki sebuah pengharapan, satu mata boneka Daruma akan dilukis, dan ketika harapan telah tercapai maka kedua mata boneka Daruma akan dilukis lengkap.
Ukuran boneka Daruma berbeda-beda. Ada boneka Daruma dengan ukuran yang sangat kecil sampai yang lebih besar dari manusia. Tetapi, ukuran standar boneka Daruma adalah sedikit lebih besar dari bola basket. Hingga saat ini, boneka Daruma dijadikan sebagai simbol kedisiplinan, ketetapan hati, kesabaran, dan penahanan nafsu.